Di negeri ini, syarat utama untuk duduk di kursi empuk bukan lagi soal kompetensi, kredibilitas, atau rekam jejak. Yang terpenting kedekatan, jasa, atau setidaknya satu barisan atau satu gerbong. Sederhananya gini, kalo udah deket, logika meritokrasi bisa disimpan di laci rapat. Kalau sudah berjasa, profesionalisme cukup dijadikan hiasan kata-kata di pidato seremonial. Loyalitas kini sering menjadi tiket paling ampuh untuk memasuki lingkaran dalam kekuasaan - baik di pemerintahan maupun perusahaan negara. Semakin setia, semakin besar peluang duduk di kursi yang strategis. Kemampuan? Itu urusan belakangan. Yang penting ketika aba-aba diberikan, semua tahu harus diam atau bergerak. Tidak ada ruang untuk keraguan. Loyalitasnebjadi sekedar nilai; ia menjadi kunci untuk mendapatkan akses ke kursi yang memberikan kekuasaan, Ironisnya, posisi-posisi strategis ini seharusnya diisi oleh mereka yang punya visi, strategi, dan keahlian untuk membawa perubahan positif, bukan mereka yang ...
Di balik logo yang megah dan pencitraan media yang rapi, banyak pemimpin perusahaan menghadapi dilema yang tidak ringan, yaitu memilih menjaga citra perusahaan atau tunduk terhadap tekanan kepentingan politik, dengan risiko utama yang sering kali tidak mereka rasakan langsung (sering pura-pura gak ngerasa). Yap, nasib para karyawan!!! Hari ini, dunia kerja tuh bukan soal produktivitas dan target lagi. Ia telah menjadi arena tarik-menarik antara citra, relasi kekuasaan, dan strategi bertahan di tengah turbulensi politik. Di tengah circle ini, karyawan yang sudah pasti jadi korban paling awal, tanpa disadari para "BOS"nya. Ada perusahaan yang tiba-tiba ngubah arah bisnisnya demi "keberlangsungan" dan sambil berpura-pura semua baik-baik aja. Ada pula yang yang dengan elegan mecat atau mutasi karyawan karena dianggap "mengganggu stabilitas", walau sebenarnya hanya menuruti bisikan kekuasaan. Yang lebih gilanya lagi, Ada pemimpin yang dengan lihainya -me...