Langsung ke konten utama

Kursi Kekuasaan : Ketika Yang Punya Kompetensi Kalah dari Yang Punya Koneksi

 Di negeri ini, syarat utama untuk duduk di kursi empuk bukan lagi soal kompetensi, kredibilitas, atau rekam jejak. Yang terpenting kedekatan, jasa, atau setidaknya satu barisan atau satu gerbong. Sederhananya gini, kalo udah deket, logika meritokrasi bisa disimpan di laci rapat. Kalau sudah berjasa, profesionalisme cukup dijadikan hiasan kata-kata di pidato seremonial.

 Loyalitas kini sering menjadi tiket paling ampuh untuk memasuki lingkaran dalam kekuasaan - baik di pemerintahan maupun perusahaan negara. Semakin setia, semakin besar peluang duduk di kursi yang strategis. Kemampuan? Itu urusan belakangan. Yang penting ketika aba-aba diberikan, semua tahu harus diam atau bergerak. Tidak ada ruang untuk keraguan. Loyalitasnebjadi sekedar nilai; ia menjadi kunci untuk mendapatkan akses ke kursi yang memberikan kekuasaan, Ironisnya, posisi-posisi strategis ini seharusnya diisi oleh mereka yang punya visi, strategi, dan keahlian untuk membawa perubahan positif, bukan mereka yang menjaga hubungan daripada merancang kebijakan.

 "Yang kami pilih adalah orang-orang profesional". begitu katanya. Namun di balik layar, kriteria profesionalisme sering kalah oleh kedekatan pribadi dan afiliasi politik. BUMN, BUMD, Lembaga negara, bahkan perusahaan besar kadang lebih peduli pada garis loyalitas ketimbang garis kemampuan. Sebenarnya, kita tidak bisa nyalahin siapapun yang milih jalur ini. Sistem yang ada mendukung mereka untuk melakukan hal itu. Sistem ini menganggap bahwa yang lebih penting adalah siapa yang adadi belakang seseorang, bukan apa yang bisa dia lakukan di depan meja rapat.

 Membiarkan jabatan strategis diisi atas dasar loyalitas adalah perjudian berisiko tinggi. Keputusan yang seharusnya berbasis visi dan kompetensi menjadi bias. Negara bisa kehilangan momentum, perusahaan bisa salah arah. Dan seperti biasa, yang menanggung akibatnya adalah mereka yang tidak pernah di undang ke meja keputusan yaitu rakyat.

 Mari kita lihat beberapa contoh nyata di mana koneksi, bukan kompetensi, menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan. Kasus-kasus seperti pemberian jabatan di BUMD misalkan, di mana orang-orang terpilih lebih mengandalkan loyalitas politik daripada pengalaman dan kapabilitas mereka dalam mengelola perusahaan. Atau dunia politik, dimana banyak pejabat dipilih karena afiliasi partai atau pertemanan pribadi, padahal tidak memiliki pemahaman yang mendalam mengenai masalah yang mereka tangani.

 Sebagai contoh, pengangkatan pejabat di beberapa kementerian sering kali lebih banyak dipengaruhi oleh kedekatan dengan penguasa, bukan berdasarkan pada integritas dan kemampuan teknis. Ini bukan hanya merugikan efektivitas pemerintahan, tetapi juga mengurangi kepercayaan publik terhadap sistem.

 Penyelesaian dari masalah ini bukanlah hal yang mudah, tetai bukan hal yang mustahil juga. Pertama, kita perlu membangun budaya yang lebih menghargai kompetensi daripada sekedar koneksi. Kedua, sistem seleksi harus lebih transparan dan berbasis pada kinerja dan kemampuan. Ketiga, akuntabilitas harus di terapkan secara ketat dalam pengangkatan pejabat dan pembagian jabatan di sektor publik maupun privat.

 Selain itu, masyarakat juga harus semakin sadarnbahwa kompetensi bukan hanya soal pendidikan formal, tetapi juga tentang pengalaman, integritas, dan kemampuan untuk membuat keputusan yang membawa manfaat untuk banyak orang.

  Negeri ini, gak butuh lebih banyak "orang kita". Yang dibutuhkan adalah "orang tepat" - mereka yang berdiri karena kapasitas, bukan koneksi. Mereka yang berani bersuara, bukan sekedar ikut arus. Karena pada akhirnya, loyalitas tanpa kapabilitas hanyalah jalan pintas.

 Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Semoga setiap tulisan disini membawa ruang baru untuk berpikir, merasa, dan bergerak. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

-bs-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemimpin di Antara Citra Perusahaan dan Kepentingan Politik yang Berdampak kepada Karyawannya

 Di balik logo yang megah dan pencitraan media yang rapi, banyak pemimpin perusahaan menghadapi dilema yang tidak ringan, yaitu memilih menjaga citra perusahaan atau tunduk terhadap tekanan kepentingan politik, dengan risiko utama yang sering kali tidak mereka rasakan langsung (sering pura-pura gak ngerasa). Yap, nasib para karyawan!!!  Hari ini, dunia kerja tuh bukan soal produktivitas dan target lagi. Ia telah menjadi arena tarik-menarik antara citra, relasi kekuasaan, dan strategi bertahan di tengah turbulensi politik. Di tengah circle ini, karyawan yang sudah pasti jadi korban paling awal, tanpa disadari para "BOS"nya.  Ada perusahaan yang tiba-tiba ngubah arah bisnisnya demi "keberlangsungan" dan sambil berpura-pura semua baik-baik aja. Ada pula yang yang dengan elegan mecat atau mutasi karyawan karena dianggap "mengganggu stabilitas", walau sebenarnya hanya menuruti bisikan kekuasaan. Yang lebih gilanya lagi, Ada pemimpin yang dengan lihainya -me...

Perkenalan Penulis

Selamat datang di Bakoel Sambelan Blog ini saya buat sebagai ruang pribadi saya untuk menuangkan berbagai macam pikiran, pengalaman, dan keresahan yang kerap melintas dalam keseharian saya. Saya percaya bahwa menulis bukan hanya soal berbagi cerita, tapi juga cara untuk merapikan isi kepala. Melalui blog ini, saya ingin membagikan berbagai hal, mulai dari pengalaman saya, refleksi kecil tentang kehidupan, catatan ringan di sela aktivitas, hingga opini sederhana yang mungkin bisa memberi sudut pandang baru bagi siapapun yang membacanya. Mengapa diberi nama Bakoel Sambelan? Karena seperti sambal yang memiliki beragam rasa -- pedas, asin, manis, hingga sedikit pahit -- tulisan-tulisan disini pun akan hadir dengan berbagai warna . Ada yang santai, ada yang serius, ada pula yang sekedar selingan di antara rutinitas. Semoga apa yang saya tuliskan disini dapat bermanfaat, atau setidaknya menemani waktu luang anda dengan cara yang sederhana. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca....